Rabu, 04 Oktober 2017

Landasan Qur’ani dalam Pengajaran Ilmu Sosial dan Sejarah


Salah satu cara yang dibuat oleh Allah SWT untuk menggugah kesadaran manusia, yaitu diperintahkannya manusia menggunakan akal sekuat tenaga untuk mengambil pelajaran (ibrah) dengan mempelajari sejarah. Salah satu terori filsafat sejarah menyatakan bahwa, “akan terjadi daur kultural sejarah”, mengandung makna akan terjadi proses pengulangan sejarah dalam pentas kehidupan manusia. Allah SWT telah menampilkan “rekaman-rekaman historis” bangsa-bangsa yang besar dan hebat berjalan mengambil posisi rel sunnatullah kehancuran, setelah diutusnya para Nabi yang menyerukan kebenaran serta meluruskan jalannya sejarah bangsa-bangsa tersebut. Petikan kisah kaum Tsamud, ‘Ad, Saba’, kaum Luth, Kaum Nuh, dan Firaun direkam dengan sangat lugas, sistematis, dan kronologis oleh Allah SWT di berbagai juru surat dalam kitab Suci al-Qur’an.
Detik-detik kehancuran suatu kaum tersebut mempunyai beberapa proses antara lain Pertama, Allah menggambarkan betapa negeri tersebut mempunyai tingkat kesuburan, keunggulan peradaban, kehebatan politik dan ekonomi. Kedua, Kehebatan tersebut diiringi dengan tingkat penyimpangan teologis (kemusyrikan) dan kebobrokan moral yang sangat luar biasa. Ketiga, Dengan adanya tingkat penyimpangan teologis dan kebobrokan akhlak yang sangat luar biasa itu, Allah merasa perlu untuk menurunkan Nabi yang membawa misi meluruskan teologi dan akhlak bangsa tersebut. Keempat, Nabi-nabi tersebut berjuang sekuat tenaga berdakwah menyeru penduduk dan penguasa untuk kembali kepada Tauhid dan kemuliaan akhlak. Kelima, Seruan para Nabi sama sekali tidak diikuti oleh sebagian besar penduduk dan penguasa Negeri tersebut, bahkan klimaks pembangkangannya adalah dengan mengatakan “Nabi tidak waras”. Keenam, Negeri itu berjalan dalam sunnatullah kehancuran dengan terus menumpuk kedzaliman dan kekufuran serta kebobrokan akhlak. Ketujuh, Akhirnya Allah menggunakan beberapa media untuk menghancurkan negeri tersebut dalam bentuk banjir besar, longsoran batu yang keras, petir yang keras, gempa bumi yang dahsyat, angin yang sangat kencang, dan disapu gelombang. Semua bentuk penghancuran ini datang sangat tiba-tiba. Kedelapan, Allah SWT  menyatakan itulah akibat perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan sendiri.
Akhirnya ada beberapa “sunnatullah sosial” yang telah Allah desain yang berlaku universal. Dalam QS. Yunus ayat 13:

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ

“Dan Sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, Padahal Rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.” (QS.Yunus : 13)

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS.Al-Israa’ : 16)

Dua ayat tersebut dinyatakan bahwa sungguh telah banyak terjadi kehancuran negeri-negeri sebelum Nabi Muhammad pada saat para penduduk dan penguasa banyak berbuat kedzaliman.
Dalam kerangka teori Mu’tazili bahwa manusia mempunyai kebebasan untuk memilih sunnatullah sunnatullah hidup yang bersifat “kausalitas” (sebab akibat). Allah telah mendesain sunnatullah di Alam dan dalam kehidupan sosial. Maka di tangan manusialah pemilihan dalam menentukan gerak sejarah individu dan bangsanya. Dan Allah telah menetapkan bahwa gerak sejarah individu dan bangsa sedang berada di rel kehancuran, jika semua aspek kehidupannya terdapat penyimpangan teologis dan kebobrokan moral. Dzhalim dalam kata yang singkat, suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan fungsinya atau “prilaku disfungsional”. Seseorang atau sebuah bangsa yang perbuatannya dilumuri dengan lumpur-lumpur kedzhaliman sedang “menantikan detik-detik kehancurannya”.
Negeri kita sepertinya mempunyai kriteri-kriteria yang sangat pas dengan proses kehancuran suatu bangsa yang telah disebutkan dalam kitab suci. Negeri yang sangat subur makmur ini ternyata memiliki “prestasi kedzhaliman” yang sungguh sangat luar biasa. Sederet data kebobrokan untuk membuktikan hal itu, misalnya, posisi negara yang korupsinya dijajaran 5 besar dunia, kerusakan hutan yang telah mencapai 60% (SCTV, 25-12-06), kasus narkoba yang naik menjadi 50,5% dengan prediksi produksi narkoba 15 Trilyun per tahun setara dengan anggaran pendidikan nasional (SCTV 28-12-08), angka aborsi mencapai 2,2 Juta per tahun yang berarti 15 detik sekali terjadi aborsi (Republika, 22-12-06), kaum remaja kita 16% melakukan seks bebas (pikiran rakyat,05-01-07), tahun 2005 Komnas HAM Perempuan mencatat 20.000 kasus kekerasan rumah tangga (Republika 17-12-06), setiap tahun terjadi rata-rata 36.000 orang tewas di jalan raya yang berarti per hari terjadi 99 orang tewas di jalan raya, sehingga ADB menganugrahi Indonesia sebagai negara yang terburuk se-ASEAN dalam hal tidak adanya jaminan keselamatan di jalan raya (Kompas, 06-12-06).
Belum lagi BANK Dunia yang menyatakan bahwa 50% penduduk Indonesia miskin, penyebaran angka HIV AIDS yang terbilang tinggi di ASIA, semakin menggunung tingginya angka kecelakaan laut dan udara, pengangguran, pembunuhan, pemerkosaan, penyebaran Film Porno, dan konflik sosial disetiap sudut negeri ini. Parahnya prestasi kedzhaliman ini juga terjadi di sektor pendidikan, UNDP menyatakan bahwa indeks pembangunan manusia tahun 2000 menempatkan Indonesia di Rengking 109 BANK Dunia tahun 1998 menempatkan Indonesia sebagai negara tingkat terendah di ASIA Timur dalam hal kemampuan membaca. Hasil penelitian oleh Prof. Ki Suprioko tahun 2000 meneliti tingkat penalaran para guru kita hasilnya 50% guru kita memiliki tingkat penalaran yang sangat rendah. Tahun 1999 tim IEA (The International Association For The Evaluation of Education Achievement) yang berpusat di Belanda melakukan survei 38 negara hasilnya Indonesia rengking 34 untuk matematika dan urutan 32 untuk IPA. Bahkan hasil penelitian Balitbang Depdiknas hanya 38% guru SD, SMP, SMU, yang layak mengajar, 62% guru tidak layak mengajar.
Kedzhliman penguasa terhadap rakyatnya dengan kasat mata terlihat dari tidak diurusnya rakyat yang telah ditimpa bencana, rekonstruksi Aceh pasca Tsunami yang belum beres-beres, dan korban gunung meletus, gempa, longsor, dan banjir “yang kelanjutan hidupnya nyaris tidak diurus sama sekali” serta korban lapindo yang dibiarkan meradang di barak-barak pengungsi. Tingkat kedzhaliman ini ditambah pula dengan bobroknya aparat penegak hukum dengan munculnya “Mapia peradilan, jual beli keputusan hukum” naju tak gentar membela yang bayar”. Orang kaya berduit bisa melenggang bebas , diskon masa tahanan yang cepat atau set VIP. Orang miskin dijebloskan habis-habisan dikubangan sel yang pengap, penuh sesak, sempit dan bau. Belum lagi hancurnya moral disebagian besar para pejabat dan wakil rakyat, sehingga banyak “menari-nari di atas penderitaan rakyat”.
Melihat segunungnya angka kebobrokan akhlak bangsa tersebut, maka sangat jangan kaget kalau rentetan bencana demi bencana yang lebih dahsyat akan terus datang bergantian dan kejutan hebat akan terus hinggap di bangsa ini. Karena kedzhalimannya sudah terjadi di semua sektor kehidupan berbagsa. Visi kenabian yang berada di tangan para Ulama dan kaum terpelajar untuk mengembalikan rel perjalanan sejarah bangsa saat ini sudah sangat banyak. Teriakan ajengan, ustadz, guru, kiayai, santri, dan mahasiswa melalui media koran, televisi, sms, internet, buku-buku, email, dan lain-lain sudah sering dilakukan, akan tetapi mayoritas penduduk dan penguasa “mempermainkan agama”, bahkan terus melakukan penyimpangan teologis dan kebobrokan akhlak.
Detik-detik kehancuran bangsa ini tinggal menunggu waktu. Namun saya sadar betul bahwa perubahan sejaran bangsa ke rel “sunnatullah keberkahan”. Ditentukan dengan satu teon filsafat sejarah hero, herois, worship bahwa perubahan sejarah ditentukan oleh adanya “seorang jenius” yng mempunyai jiwa kepahlawanan yang tulus dan berani menegakkan kebaikan yang melawan kezaliman serta kemungkaran. Nampaknya, posisi kampus, sekolah atau masdarasah harus berusaha melahirkan sumber daya manusia yang memiliki “karakter  kenabian”. Segenap civitas akademik, sekolah, madrasah harus berusaha sekuat tenaga agar kampus ini berada di rel sunnatullah keberkahan dan kebaikan, dengan mendongkrak atmosfir akademik yang moralis dinamis dan progresif.
Namun allah memperingatkan dalam Q.S 8:25, bahwa imbas bencana kehancuran tidak hanya akan kena pada mereka yang berbuat kezaliman saja, tetapi orang-orang yang soleh pun akan terkena getah bencana kehancuran. Karena itu kita harus siap-siap menanti kejutan-kejutan demonstrasi bencana yang diberikan oleh Allah kepada kita, terutama penjemputan kematian yang secara tiba-tiba. Pertanyaan besarnya adalah, apakah kita lebih banyak bergerak ke-sunnatullah kezaliman atau selalu berada pada sunnatullah kebaikan. Jawabannya ada pada ketajaman nurani dana akal para penguasa dan penduduk bangsa ini. Nampaknuya perjalanan bnagsa kita cenderung ke arah rel kehancuran demngan semakin hebatnya kezaliman diberbagai aspek kehidupan negeri ini. Bangsa ini seperti sedang menggali lubang kuburannya sendiri kita seperti sedang bergerombol mengantri untuk menanti dan menyongsong detik-detik kehancuran bangsa kita.

Prinsip-prinsip sunnatullah sosial dan sejarah tersebut bisa dijadikan landasan bagi pengajaran dan pendidikan pengetahuan sosial dan sejarah bagi para siswa, sehingga pengajaran tidak hanya berisi penjejalan eksploitasi pengetahuan kognitif tentang pengetahuan sosial dan sejarah, tetapi para siswa harus dibawa kepada “ resapan-resapan kausalitas uluhiyyah”, dan kehidupan soasial dan sejarah. Para siswa diajak untuk mengambil hikmah(pelajaran) dari segala peristiwa sosial yang sudah dan sedang terjadi di negara ini dan dunia internasional, agar tidak terjadi kecelakaan sejarah dimasa mendatang. Kehancuran ini mungkin terjadi diakibatkan oleh pendidikan kita yang kurang menyentuh spiritualitas siswa maka saatnya menghadang proses kehancuran dini dimulai dengan pengajaran yang seimabang dalam menyentuh kognitif dan spiritualitas siswa. Karena merekalah pewaris negeri ini di masa mendatang (wallahua’lam).         

Kamis, 20 Januari 2011

Beranjak dari titik nadir


Membaur. Mendengar ramainya celotehan anak-anak…
Menangkap dan menikmati kembali ekspresi kejujuran manusiaku. Hingga ceria hariku kembali. Aku ingin kembali menikmati semuanya. Memaknai bahwa hidupku adalah anugrah, bahwa hidupku adalah indah. Tentunya dengan berusaha menggali hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi.
Aku ingin kembali membersihkan diri. Dari semua kemunafikan yang kumiliki. Dari semua ucapan yang tak bisa kutepati. Perlahan. Karena aku ingin menikmati prosesnya. Hasil akhirnya hanyalah efek samping dari bagaimana kita menjalani proses itu. Ya karena usaha akan sebanding dengan hasil yang kita peroleh. Aku ingin memulainya dari sekarang. Beranjak dari titik nadirku. Agar aku tak semakin melemah dan tak mempunyai tenaga untuk beranjak.
Maka aku memulainya dengan belajar dari anak-anak. Di sanalah sering kutemukan asal mula semua keaslian. Karena di sanalah sering kutemukan kebeningan. Sesuatu yang dulu mungkin pernah kita memiliki bersama karena kita semua merasakan masa kanak-kanak. Lalu pada suatu masa kita melakukan dosa dan merusak semua tatanan kebeningan kita. Seperti setitik nila yang merusak susu sebelangga.
Seperti itulah fase fitrah kita. Kita manusia tempatnya salah dan lupa. Dan untuk menghilangkan setitik nila itu atau mengembalikan susu sebelangga itu ke semula mungkin kita membutuhkan lebih dari satu belangga susu. Mungkin itulah mengapa Rosul menyuruh kita setiap hari memperbaharui syahadat kita. Agar kita memiliki benteng yang lebih kuat dari hari ke hari sehingga tak mengulangi kesalahan yang sama.
Mari bersama-sama memulainya. Beranjak dari titik nadir. Titik kuliminasi yang membuat seakan kita jalan di tempat. Yang membuat kita tak bisa tersenyum bahagia. Jika saja kau masih enggan. Ingatlah, di luar sana ada banyak orang yang menanti senyumku dan senyummu. Kita dibutuhkan. Untuk menjadi solusi. Untuk menjadi penggerak perbaikan kehidupan. Beranjaklah bersamaku…buat dirimu kembali berarti.



Jumat, 07 Januari 2011

Today I will be master of my emotions (Hari ini saya akan menguasai emosiku)

Ada musim semi dan ada musim gugur, ada siang dan ada malam, ada panas dan ada dingin, ada kemarau dan ada banjir. Demikian juga dengan emosi saya. Kadang senang dan kadang sedih. Kesedihan kemarin dapat menjadi kegembiraan hari ini, kegembiraan hari ini dapat menjadi kesedihan esok hari. Saya harus menjadi master dari emosi ini sehingga setiap hari saya tetap produktif.

I will live this day as if it my last (Aku akan hidup hari ini seakan-akan saya yang terakhir)

Saya akan hidup pada hari ini seolah-olah ini adalah hari terakhirku. Apa yang telah terjadi pada kemarin tidak akan kembali lagi pada hari ini. Dan apa yang saya khawatirkan pada hari esok belum tentu akan terjadi. Saya akan memperlakukan anak-anakku dengan baik seperti besok mereka sudah tidak ada, saya akan memperlakukan pasangan hidupku dengan penuh cinta seperti hari ini terakhir kami akan bertemu dan juga juga akan memperlakukan teman-temanku dengan baik sesuai kebutuhan mereka seolah-olah besok tidak ada kesempatan lagi bagi mereka untuk minta tolong.

I am nature’s greatest miracle (Saya keajaiban alam terbesar)

Saya adalah makhluk yang unik. Saya akan menjadi diri saya sendiri. Saya berbeda dengan orang lain. Dan saya memiliki potensi yang tidak terbatas yang dapat saya kembangkan. Saya akan meraih kemenangan dan saya akan menjadi orang yang sukses.

I Will Persist until I Succeed (Aku akan bertahan sampai aku berhasil)

Saya akan bertahan sampai saya mencapai kesuksesan. Saya tidak tahu berapa panjang perjalananku untuk mencapai sukses. Dan yang pasti puncak sukses tidak berada di awal perjalanku. Maka aku akan berjalan dan berjalan terus selangkah demi selangkah untuk mencapai kesuksesan itu.