Kususuri lorong waktu dengan berusaha meraba-raba, karena lorong itu kadang berisi kegelapan yang susah ditembus dengan indra yang kumiliki, terlalu gelap untuk dilihat oleh mata, terlalu sunyi untuk didengarkan, terlalu hening untuk dirasakan….Diantara terang kulihat keyakinan yang harus dipegang bahwa semua harus begini dan begitu, tapi ketika fase kegelapan datang maka antara keyakinan dan realita bertarung sebegitu dahsyatnya….
Pertarungan ini mengguncangkan dada, batin maupun keyakinan yang dipegang… Suatu saat ia meledak2 berani bagai singa yang marah, disaat lain kadang redup kadang terang seiring angin yang menerpa tiada henti. Dan manakala ia meredup maka segalanya menciut menyisakan kekerdilan nyali, saat itu ingin rasanya kuberlari dari pilihan yang telah ditetapkan…..
Rasa malu telah membelungguku bahkan genderang kehinanan demikian nyaring ditelingaku… Iblispun kian senang mendendangkan irama penyesalan atas sebuah pilihan hidup… Nafaskupun terengah-engah menggapai2 apa yang bisa kuidentifikasi diantara gelapnya misteri sekelilingku… Kali ini iblis nyanyikan genderang atas nikmatnya jalan pilihan yang kutinggalkan ditambah bebatuan yang turut mengganggu jalanku, kadang licin kadang pula berkubang ataupun bebongkahan..
Namun begitu karang dihatiku tetap mendorongku untuk tetap maju mencari titik terang difase selanjutnya… Tetes air matapun menjadi saksi bahwa jiwa yang kerdil ini tetap berusaha menyongsong janji-Nya untuk adanya terang difase selanjutnya…