Salah
satu cara yang dibuat oleh Allah SWT untuk menggugah kesadaran manusia, yaitu
diperintahkannya manusia menggunakan akal sekuat tenaga untuk mengambil
pelajaran (ibrah) dengan mempelajari sejarah. Salah satu terori filsafat
sejarah menyatakan bahwa, “akan terjadi daur kultural sejarah”, mengandung
makna akan terjadi proses pengulangan sejarah dalam pentas kehidupan manusia.
Allah SWT telah menampilkan “rekaman-rekaman historis” bangsa-bangsa yang besar
dan hebat berjalan mengambil posisi rel sunnatullah kehancuran, setelah
diutusnya para Nabi yang menyerukan kebenaran serta meluruskan jalannya sejarah
bangsa-bangsa tersebut. Petikan kisah kaum Tsamud, ‘Ad, Saba’, kaum Luth, Kaum
Nuh, dan Firaun direkam dengan sangat lugas, sistematis, dan kronologis oleh
Allah SWT di berbagai juru surat dalam kitab Suci al-Qur’an.
Detik-detik
kehancuran suatu kaum tersebut mempunyai beberapa proses antara lain Pertama, Allah
menggambarkan betapa negeri tersebut mempunyai tingkat kesuburan, keunggulan
peradaban, kehebatan politik dan ekonomi. Kedua, Kehebatan
tersebut diiringi dengan tingkat penyimpangan teologis (kemusyrikan) dan
kebobrokan moral yang sangat luar biasa. Ketiga, Dengan
adanya tingkat penyimpangan teologis dan kebobrokan akhlak yang sangat luar
biasa itu, Allah merasa perlu untuk menurunkan Nabi yang membawa misi
meluruskan teologi dan akhlak bangsa tersebut. Keempat, Nabi-nabi
tersebut berjuang sekuat tenaga berdakwah menyeru penduduk dan penguasa untuk
kembali kepada Tauhid dan kemuliaan akhlak. Kelima, Seruan
para Nabi sama sekali tidak diikuti oleh sebagian besar penduduk dan penguasa
Negeri tersebut, bahkan klimaks pembangkangannya adalah dengan mengatakan “Nabi
tidak waras”. Keenam, Negeri
itu berjalan dalam sunnatullah kehancuran dengan terus menumpuk
kedzaliman dan kekufuran serta kebobrokan akhlak. Ketujuh, Akhirnya
Allah menggunakan beberapa media untuk menghancurkan negeri tersebut dalam
bentuk banjir besar, longsoran batu yang keras, petir yang keras, gempa bumi
yang dahsyat, angin yang sangat kencang, dan disapu gelombang. Semua bentuk
penghancuran ini datang sangat tiba-tiba. Kedelapan, Allah
SWT menyatakan itulah akibat
perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan sendiri.
Akhirnya
ada beberapa “sunnatullah sosial” yang telah Allah desain yang berlaku
universal. Dalam QS. Yunus ayat 13:
وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ
“Dan Sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum
kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, Padahal Rasul-rasul mereka telah datang
kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka
sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada
orang-orang yang berbuat dosa.” (QS.Yunus : 13)
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan
kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah)
tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya
Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri
itu sehancur-hancurnya.” (QS.Al-Israa’
: 16)
Dua
ayat tersebut dinyatakan bahwa sungguh telah banyak terjadi kehancuran
negeri-negeri sebelum Nabi Muhammad pada saat para penduduk dan penguasa banyak
berbuat kedzaliman.
Dalam
kerangka teori Mu’tazili bahwa manusia mempunyai kebebasan untuk memilih
sunnatullah sunnatullah hidup yang bersifat “kausalitas” (sebab akibat). Allah
telah mendesain sunnatullah di Alam dan dalam kehidupan sosial. Maka di tangan
manusialah pemilihan dalam menentukan gerak sejarah individu dan bangsanya. Dan
Allah telah menetapkan bahwa gerak sejarah individu dan bangsa sedang berada di
rel kehancuran, jika semua aspek kehidupannya terdapat penyimpangan teologis
dan kebobrokan moral. Dzhalim dalam kata yang singkat, suatu perbuatan yang
tidak sesuai dengan fungsinya atau “prilaku disfungsional”. Seseorang atau
sebuah bangsa yang perbuatannya dilumuri dengan lumpur-lumpur kedzhaliman
sedang “menantikan detik-detik kehancurannya”.
Negeri
kita sepertinya mempunyai kriteri-kriteria yang sangat pas dengan proses
kehancuran suatu bangsa yang telah disebutkan dalam kitab suci. Negeri yang
sangat subur makmur ini ternyata memiliki “prestasi kedzhaliman” yang sungguh
sangat luar biasa. Sederet data kebobrokan untuk membuktikan hal itu, misalnya,
posisi negara yang korupsinya dijajaran 5 besar dunia, kerusakan hutan yang
telah mencapai 60% (SCTV, 25-12-06), kasus narkoba yang naik menjadi 50,5%
dengan prediksi produksi narkoba 15 Trilyun per tahun setara dengan anggaran
pendidikan nasional (SCTV 28-12-08), angka aborsi mencapai 2,2 Juta per tahun
yang berarti 15 detik sekali terjadi aborsi (Republika, 22-12-06), kaum remaja
kita 16% melakukan seks bebas (pikiran rakyat,05-01-07), tahun 2005 Komnas HAM
Perempuan mencatat 20.000 kasus kekerasan rumah tangga (Republika 17-12-06),
setiap tahun terjadi rata-rata 36.000 orang tewas di jalan raya yang berarti
per hari terjadi 99 orang tewas di jalan raya, sehingga ADB menganugrahi
Indonesia sebagai negara yang terburuk se-ASEAN dalam hal tidak adanya jaminan
keselamatan di jalan raya (Kompas, 06-12-06).
Belum
lagi BANK Dunia yang menyatakan bahwa 50% penduduk Indonesia miskin, penyebaran
angka HIV AIDS yang terbilang tinggi di ASIA, semakin menggunung tingginya
angka kecelakaan laut dan udara, pengangguran, pembunuhan, pemerkosaan,
penyebaran Film Porno, dan konflik sosial disetiap sudut negeri ini. Parahnya
prestasi kedzhaliman ini juga terjadi di sektor pendidikan, UNDP menyatakan
bahwa indeks pembangunan manusia tahun 2000 menempatkan Indonesia di Rengking
109 BANK Dunia tahun 1998 menempatkan Indonesia sebagai negara tingkat terendah
di ASIA Timur dalam hal kemampuan membaca. Hasil penelitian oleh Prof. Ki
Suprioko tahun 2000 meneliti tingkat penalaran para guru kita hasilnya 50% guru
kita memiliki tingkat penalaran yang sangat rendah. Tahun 1999 tim IEA (The
International Association For The Evaluation of Education Achievement) yang
berpusat di Belanda melakukan survei 38 negara hasilnya Indonesia rengking 34
untuk matematika dan urutan 32 untuk IPA. Bahkan hasil penelitian Balitbang
Depdiknas hanya 38% guru SD, SMP, SMU, yang layak mengajar, 62% guru tidak
layak mengajar.
Kedzhliman
penguasa terhadap rakyatnya dengan kasat mata terlihat dari tidak diurusnya
rakyat yang telah ditimpa bencana, rekonstruksi Aceh pasca Tsunami yang belum
beres-beres, dan korban gunung meletus, gempa, longsor, dan banjir “yang
kelanjutan hidupnya nyaris tidak diurus sama sekali” serta korban lapindo yang
dibiarkan meradang di barak-barak pengungsi. Tingkat kedzhaliman ini ditambah
pula dengan bobroknya aparat penegak hukum dengan munculnya “Mapia peradilan,
jual beli keputusan hukum” naju tak gentar membela yang bayar”. Orang kaya
berduit bisa melenggang bebas , diskon masa tahanan yang cepat atau set VIP.
Orang miskin dijebloskan habis-habisan dikubangan sel yang pengap, penuh sesak,
sempit dan bau. Belum lagi hancurnya moral disebagian besar para pejabat dan
wakil rakyat, sehingga banyak “menari-nari di atas penderitaan rakyat”.
Melihat
segunungnya angka kebobrokan akhlak bangsa tersebut, maka sangat jangan kaget
kalau rentetan bencana demi bencana yang lebih dahsyat akan terus datang
bergantian dan kejutan hebat akan terus hinggap di bangsa ini. Karena
kedzhalimannya sudah terjadi di semua sektor kehidupan berbagsa. Visi kenabian
yang berada di tangan para Ulama dan kaum terpelajar untuk mengembalikan rel
perjalanan sejarah bangsa saat ini sudah sangat banyak. Teriakan ajengan,
ustadz, guru, kiayai, santri, dan mahasiswa melalui media koran, televisi, sms,
internet, buku-buku, email, dan lain-lain sudah sering dilakukan, akan tetapi
mayoritas penduduk dan penguasa “mempermainkan agama”, bahkan terus melakukan
penyimpangan teologis dan kebobrokan akhlak.
Detik-detik
kehancuran bangsa ini tinggal menunggu waktu. Namun saya sadar betul bahwa
perubahan sejaran bangsa ke rel “sunnatullah keberkahan”. Ditentukan dengan
satu teon filsafat sejarah hero, herois, worship bahwa perubahan sejarah
ditentukan oleh adanya “seorang jenius” yng mempunyai jiwa kepahlawanan yang
tulus dan berani menegakkan kebaikan yang melawan kezaliman serta kemungkaran.
Nampaknya, posisi kampus, sekolah atau masdarasah harus berusaha melahirkan
sumber daya manusia yang memiliki “karakter
kenabian”. Segenap civitas akademik, sekolah, madrasah harus berusaha
sekuat tenaga agar kampus ini berada di rel sunnatullah keberkahan dan
kebaikan, dengan mendongkrak atmosfir akademik yang moralis dinamis dan
progresif.
Namun
allah memperingatkan dalam Q.S 8:25, bahwa imbas bencana kehancuran tidak hanya
akan kena pada mereka yang berbuat kezaliman saja, tetapi orang-orang yang
soleh pun akan terkena getah bencana kehancuran. Karena itu kita harus
siap-siap menanti kejutan-kejutan demonstrasi bencana yang diberikan oleh Allah
kepada kita, terutama penjemputan kematian yang secara tiba-tiba. Pertanyaan
besarnya adalah, apakah kita lebih banyak bergerak ke-sunnatullah kezaliman
atau selalu berada pada sunnatullah kebaikan. Jawabannya ada pada ketajaman
nurani dana akal para penguasa dan penduduk bangsa ini. Nampaknuya perjalanan
bnagsa kita cenderung ke arah rel kehancuran demngan semakin hebatnya kezaliman
diberbagai aspek kehidupan negeri ini. Bangsa ini seperti sedang menggali
lubang kuburannya sendiri kita seperti sedang bergerombol mengantri untuk
menanti dan menyongsong detik-detik kehancuran bangsa kita.
Prinsip-prinsip
sunnatullah sosial dan sejarah tersebut bisa dijadikan landasan bagi pengajaran
dan pendidikan pengetahuan sosial dan sejarah bagi para siswa, sehingga
pengajaran tidak hanya berisi penjejalan eksploitasi pengetahuan kognitif
tentang pengetahuan sosial dan sejarah, tetapi para siswa harus dibawa kepada “
resapan-resapan kausalitas uluhiyyah”, dan kehidupan soasial dan sejarah. Para
siswa diajak untuk mengambil hikmah(pelajaran) dari segala peristiwa sosial
yang sudah dan sedang terjadi di negara ini dan dunia internasional, agar tidak
terjadi kecelakaan sejarah dimasa mendatang. Kehancuran ini mungkin terjadi
diakibatkan oleh pendidikan kita yang kurang menyentuh spiritualitas siswa maka
saatnya menghadang proses kehancuran dini dimulai dengan pengajaran yang
seimabang dalam menyentuh kognitif dan spiritualitas siswa. Karena merekalah
pewaris negeri ini di masa mendatang (wallahua’lam).